Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Dari Penjaga Toko, Menjadi Pengusaha "Fashion"


KOMPAS.com  Bila Anda warga Bandung, bisa jadi Anda mengenal Fresh Fashion dan Khaera Hijab. Dua brand pakaian muslim ini cukup populer di ibu kota Provinsi Jawa Barat tersebut. Pemiliknya adalah Eka Putra, pebisnis yang sukses setelah merangkak benar-benar dari bawah. 

Ia mengawali usahanya setelah menjadi pramuniaga di sebuah toko baju. Ceritanya, sekitar tahun 1990, Eka terpaksa keluar dari SMA karena kesulitan ekonomi keluarga. "Ketika itu, saya sudah menjadi tulang punggung keluarga. Jadi, saya putuskan mencari kerja di Bandung," kisah pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 39 tahun silam ini.

Kebetulan, ia punya paman yang membuka toko fashion di Bandung. Toko tersebut menjual aneka produk pakaian pria, mulai dari kaus oblong, kemeja, hingga celana. Barang dagangan diambil dari Jakarta. Di sanalah ia mulai belajar bisnis fashion.

Berkat kerja keras dan kejujurannya, Eka pun menjadi orang kepercayaan sang paman. Ia dipercaya mengelola toko tersebut, mulai dari pengurusan stok, penjualan, hingga pengelolaan harian. Ia bersemangat karena sistem bagi hasil.

Di luar dugaan, dua tahun berselang, sang paman menyerahkan operasional toko seluruhnya kepada Eka. "Saya menjadi semacam pemilik toko. Mengelola modal sendiri, keuntungan sepenuhnya untuk saya. Paman hanya minta saya membayar toko," tuturnya.  

Sejak itulah, Eka mulai mengembangkan usaha sendiri dengan mengusung nama Fresh Fashion. Namun, ia belum memproduksi pakaian sendiri, masih mengambil barang dari produsen lain. 

Usahanya tak selalu berjalan mulus. Namun, ia terus berjuang, bahkan beberapa kali mengganti konsep bisnis lantaran kurang laku. Hingga 2008, Eka menemukan konsep bisnis yang pas. 

Ketika itu, ia mencoba berjualan busana muslim khusus wanita. Jualannya ternyata laris. "Saya pun memutuskan fokus bermain di bisnis fashion Muslimah," kisahnya.

Eka mulai memproduksi sendiri dalam skala kecil, 400-600 potong per bulan. Lantaran permintaan terus meningkat, ia pun berani  memproduksi dalam skala besar. Ia menggandeng perusahaan konveksi untuk memproduksi pakaian yang mengusung merek miliknya.

Kini, ada dua brand busana muslim yang ia miliki. Beda keduanya dari target pasar. Fresh Fashion menyasar kelas menengah dengan harga produk Rp 70.000 hingga Rp 150.000 per lembar. Adapun merek terbarunya, Khaera Hijab, membidik kelas menengah atas. Harganya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 400.000 per potong. 

Sekarang, tiap bulan, Eka memproduksi sekitar 12.000 hingga 15.000 setel pakaian. Dari kedua brand itu, ia bisa meraup omzet Rp 600 juta-Rp 750 juta per bulan.

Selain dijual melalui 11 outlet yang tersebar di Bandung, Cibaduyut, dan Cirebon, produknya juga sudah merambah seluruh wilayah Tanah Air. Ada ribuan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan Malaysia.  (Revi Yohana)

Berani Berinovasi, Wanita Ini Raup Omzet Bisnis Pakaian Rp 100 Juta/Bulan


Jakarta - Berawal dari bosan memakai baju muslim yang monoton, pemilik merek baju muslim Diff, Dian Aryani mencoba membuat inovasi dengan menghadirkan baju muslim long dress bergaya kasual. Long dress milik Dian ini dirancang untuk dipakai dalam keseharian, simpel namun tetap gaya.

"Saya kan pakai jilbab tahun 2004. Waktu itu kan baju muslim nggak banyak pilihan ya. Dari situ saya coba desain sendiri. Long dress casual, kita simpel saja, untuk daily. Nggak kehilangan muslimnya tapi tetap modis, bisa dipadu padan, biar enak, nggak monoton," kata Dian kepada detikFinance, di acara Indonesian Islamic Fashion Festival 2013, di JCC Senayan, Jumat (31/5/2013).

Dari inovasinya itu, Dian berhasil meraup omzet hingga Rp 100 juta per bulan. Produk-produk rancangan milik Dian ini dibanderol dengan harga di kisaran Rp 285 ribu sampai Rp 345 ribu per potongnya. Untuk yang paling murah Rp 285 ribu dibanderol untuk long dress model Tasya Dress, sementara yang paling mahal Liza Glitter Dress dibanderol Rp 345 ribu.

Dian juga menyediakan model-model long dress lain, seperti Kelly Stripe Dress, Gracia Long Cardigan Dress, Veronica Dress, Sherly Dress, dan Taskia Dress. "Bahannya pakai jersey, sifon, katun, dan rayon jadi adem dan santai, nggak berat. Yang paling laku itu Sherly Dress," ujarnya.

Dian menjelaskan, long dress miliknya ini tidak hanya bisa dipakai untuk yang bertubuh tinggi saja, namun untuk semua ukuran tinggi badan.

"Biasanya long dress kan Cuma buat yang tinggi ya, yang badannya kecil susah cari long dress, nah kalau ini bisa untuk semua, all size jadi bisa dipakai untuk semua,” kata Dian.

(hen/hen) 

sumber: finance.detik.com

Berguru ke Suhu Bisnis Pendekar Tanpa Bayangan

Dua hari berturut-turut kemarin, merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami. Saya dan teman-teman pengurus TDA Tangerang berkesempatan melakukan kunjungan ke dua orang calon narasumber untuk sharing atau diskusi FGD Fashion yang akan diadakan oleh TDA Tangerang yang bertemakanAll About Fashion. FGD (Focus Group Discussion) ini adalah diskusi terbatas yang merupakan divisi dan program kerja TDA Tangerang.
Bagaimana tidak saya katakan luarbiasa! Kedua orang ini ternyata adalah Pendekar hebat dalam bidangnya masing-masing (di TDA Tangerang kami biasa menggunakan istilah dunia persilatan). Yang pertama kami berkunjung ke pak Hikmanul Hakim, beliau bergerak di bidang distribusi atau retail (www.rumahmadani.com).  Sedangkan yang kedua adalah pak Firman Al Qohhar, bergerak di bidang produksi dan penjualan jilbab Faira (www.fairadisain.com).
Bergerak tanpa bersuara, pendekar  tanpa bayangan!  Ya, tak banyak yang kita ketahui tentang dua orang yang low profile ini. Mereka berdua hampir tak pernah menulis di milis TDA, tapi ketika kami bertemu langsung dengan mereka ternyata adalah orang yang sangat terbuka dan tanpa segan memberikan ilmu-ilmu dahsyat kepada kami—bahkan sampai ke dapur bisnis mereka.

Pada kunjungan pertama ke markas Rumah Madani, kami disuguhi sharing menarik oleh pak Hakim. Beliau bercerita banyak tentang dunia per-online-an dan ekspansi beliau ke dunia offline. Yang menarik, beliau malahan tidak terlibat banyak dan langsung dengan bisnis dia ini. Karena ibarat mesin, semua unit sudah bisa jalan sendiri dan setiap sore beliau hanya terima laporan dari anak buahnya. Kerjaan beliau, ya di rumah saja dan melihat-lihat taman. Dan, dahsyatnya omzetnya wah!
Pak Hakim jago dalam soal pengelolaan sistem. Semua bagian sudah ada aturan main (SOP) yang jalan dan diterapkan dengan baik. Ketika diajak berkunjung ke “dapurnya” Rumah Madani, kami melihat kesibukan yang luar biasa dari para pegawainya. Dengan belasan pegawai, semua menjalankan tugas masing-masing, mulai dari purchasing atau pembelian, bagian gudang sampai ke sales dan marketing serta CS terintegrasi dalam satu kegiatan yang terkelola dengan baik.
Saat mengunjungi gudang Rumah Madani, masyaAllah kami semua begitu terpesona. Puluhan rak rapi berjajar dalam dua ruang gudang, berjejer ratusan bahkan mungkin ribuan produk yang tertata dengan baik, tercatat dengan benar masuk dan keluarnya barang. Kemudian tersambung dengan jejeran komputer yang ditangani oleh belasan pegawai beliau yang menangani mulai dari pesanan, pembukuan dan hubungan dengan pelanggan. Sungguh, ini menjadi bahan visualisasi bagi yang kami yang berkunjung yang skala bisnisnya jauh di bawah pak Hakim.
Yang menarik, walau hanya tamatan SMK hampir semua pegawai pak Hakim sekarang ini sedang mengambil kuliah untuk mendapatkan S1 di kuliah ekstensi.
Kemudian pada hari kedua, kami kembali disuguhi pengalaman yang tak kalah hebatnya. Diterima di kantornya Faira di sebuah ruko 2 lantai, pak Firman mengajak kami menyaksikan proses bisnis dan stok Faira. Sekarang ini Faira kewalahan menangani pesanan pelanggan. Para distributor dan agen yang ingin mendapatkan produk Faira malah harus masuk daftar antrian terlebih dahulu. Sekitar 800 bandana dan 400 jilbab yang diproduksi per hari ternyata tidak cukup memenuhi banyaknya pesanan yang datang. (Saya sempat bercerita dalam posting sebelumnya, tentang mindernya saya ketika mengantarkan pesanan pelanggan ke kurir langganan. Menyaksikan berkoli-koli paket pesanan Faira).
Karena sudah masuk waktu Ashar, pak Firman mengajak kami shalat berjamaah di masjid dekat kantor dan pusat produksi Faira. MasyaAllah, kurang lebih separoh dari 4 atau 5 saf jamaah itu adalah para karyawannya pak Firman Faira. Saat waktu shalat tiba, pak Firman mewajibkan para pegawainya untuk shalat berjamaah di masjid.
MasyaAllah, kami ditunjukkan pada praktik syariah dalam bisnisnya pak Firman. Selesai shalat pak Firman bercerita bahwa setiap pagi para pegawainya melakukan shalat dhuha terlebih dahulu sebelum bekerja, mereka melakukan sedekah dan setiap Selasa dan Sabtu ada pengajian untuk seluruh karyawan di masjid dengan mengundang ustad untuk ceramah.
Dengan sekitar 100 orang pegawai, pak Firman melayani mereka dengan sangat baik. Beliau mengajari para pegawainya tentang akhlak dan agama, tidak semata kerja mencari uang saja. “Saya pengen para pegawai saya juga baik hidupnya. Dan tanggung jawab terhadap pegawai tidak semata di dunia saja, tapi juga sampai akhirat”, kurang lebih demikian kata pak Firman. Mereka diajari tentang kejujuran dan tanggungjawab juga. Tidak ada sistem absensi yang diterapkan. Semua pegawai bekerja dengan penuh tanggungjawab.
Terlihat semua pegawai begitu riang dan betah bekerja. Dengan jam kerja yang manusiawi, dari jam 8 pagi sampai 16.30 dan gaji yang di atas UMR. Coba bayangkan, masak hanya pegawai yang kerjanya hanya buang benang saja, mendapatkan gaji Rp 1.300.000 sebulan! Hampir semua pegawainya punya sepeda motor karena fasilitas kemudahan yang diberikan untuk mendapatkannya.
Dan yang lebih dahsyat lagi, kemudian pak Firman mengajak kami mengunjungi rumah mewah yang baru beliau beli. Rumah 2 lantai seharga 1,3 Miliar yang bergaya bangunan masa kini dan ber-AC itu ternyata beliau sediakan untuk menjadi tempat tinggal para pegawainya. “Kapan lagi mereka akan menikmati kamar ber-AC seperti ini, Pak”, demikian alasan pak Firman. Sementara beliau sekeluarga memilih tinggal di rumah yang biasa saja, yang menyatu dengan kebisingan para pekerja konveksi tempat produksi. Luarbiasa pelayanan beliau terhadap pegawainya.


Pak Firman juga menawarkan rumah mewah ber-AC ini kepada teman-teman TDA untuk dipergunakan jika ingin kumpul-kumpul atau mengadakan acara.”Silahkan dipergunakan oleh teman-teman TDA, pak”, kata beliau.
Petang itu menjadi kenangan terindah bagi saya dan teman-teman yang datang ke tempat pak Firman. Ratusan pegawai dan konveksi yang tersebar di beberapa tempat, dan pelayanan terhadap pagawai menjadi bahan afirmasi dan visualisasi bagi kami, agar suatu saat bisa mencontoh beliau.
Demikianlah hasil kunjungan kami kepada kedua calon narasumber sharing FGD Fashion TDA Tangerang. Dengan omset lebih dari 6 miliar per tahun, sudah tepatlah kedua orang ini menjadi guru para pebisnis TDA. Dan yang lebih penting, keahlian mereka dalam bisnis yang tidak akan kita dapatkan di kelas-kelas bisnis, cara-cara otak kanan dan anti marketing mereka akan menjadi inspirasi besar bagi kita nanti. Merekalah guru sejati, seperti pendekar tanpa banyangan gerak mereka tak terlihat tapi keperkasaan mereka sungguhlah hebat.


Kisah Dari Radjanya Batik Noesantara (Nana Agus Sutarna)


Berikut ini adalah cerita success story tentang bisnis online yaitu toko online batik yang berasal dari milist pengusaha pks. silahkan disimak:

Nah ada cerita menarik yang tidak bisa saya lupakan, saat itu ada seorang ikhwah yang menanyakan perihal tentang pembuatan website, beliau mengatakan bahwa beliau ingin membuat website toko online untuk istrinya agar bisa berjualan lewat online. Beliau menanyakan apakah saya bisa membuat toko online untuk batik. Saya menjawab insyalloh bisa pak. Dari situ saya langsung melakukan riset pasar online untuk menentukan pangsa pasar batik untuk toko online tersebut . Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata permintaan batik masih jauh lebih sedikit jika dibanding dengan jumlah penjualnya. Hasil ini akhirnya saya beritahukan ke beliau sambil memberikan saran lebih baik berjualan tas wanita saja karena permintaannya banyak sedangkan yang jual masih sedikit(sedikit dan banyak yang  saya maksud disini adalah dari konversi nilai antara penjual dan pembeli, jadi masih relatif). selama menunggu respon dari ikhwah tersebut, saya pun mulai “iseng” mengerjakan toko online batik walaupun belum ada kepastian jadi atau tidaknya. toko onlinepun akhirnya jadi, namun ternyata masih belum ada balasan tentang kepastian mau digunakan atau tidaknya. beberapa hari menunggu, akhirnya ada respon dari beliau bahwa ingin bertemu. akhirnya kami bertemu,untuk urusan yang lain tapinya. saya menyetujui pembuatan website yang lain-bukan toko online. Namun rencana hanya tinggal rencana, ketika baru saja saya hendak mengerjakan websitenya saya muntah darah setelah mengalami kejadian aneh sebelumnya. Yang alhamdulillah mulai berangsung membaik setelah di Ruqyah. efeknya website itupun akhirnya gagal saya buat, mengingat kesehatan yang tidak memeungkinkan (melalui tulisan inipun saya ingin meminta maaf kepada yang bersangkutan, maaf no Hp nya hilang mungkin kehapus oleh keponakan saya saat dia mainin HP saya, maklumlah masih anak kecil hehe…), dari situlah titik baliknya, ketika kesehatan saya mulai membaik saya mulai memutar otak bagaimana caranya saya ingin memulai usaha kembali. Setelah saya pikir2, saya kan sudah buat website Toko Online batik, kenapa ga saya berdayakan aja toh sayang ga dipake.
Tapi darimana produknya? modal dll. Saya pun melakukan cara-cara berikut untuk memulai usaha batik online
  • Saya melakukan riset pasar kembali dan alhamdulillah hasilnya ga jauh beda dengan riset awal. Namun saya berpikir jika pembelinya memang sedikit masa iya yang jualan bisa sebanyak ini. Akhirnya saya mulai targetkan pada pasar yang sedikit “yang penting ini untuk awalan” begitu pikir saya
  • saya upload toko online saya, saya cari nama yang nyentrik dengan pangsa pasar anak muda akhirnya saya pilih nama batikOE (terinspirasi dari penjual tas online TasKOE)
  • Setelah diupload saya cari supplier yang mungkin bisa menyediakan produk batik untuk toko online saya. setelah mencari selama berhari2 saya akhirnya dapat sebuah situs batik yang mau menerima pesanan saya, namun dengan system dropshipping. Untuk menjaga kualitas produk saya tanyakan tentang produk batik tersebut sedetail mungkin
  • Saya copy paste gambar dan keterangan dari web batik supplier saya ke web batikoe. dan saya pun mulai melakukan pemasaran dengan berbagai teknik yang saya ketahui
  • HASILNYA? Hanya dalam waktu satu minggu saya dapat pesanan dari berbagai tempat. Bandung, Makasar, Surabaya, Banten Dan lain-lain. Dan kejutannya, diminggu kedua saya dapat pesanan dari Luar negeri, Alhamdulillah sudah mengirimkan produk ke-5 negara, walaupun quantitynya sangat kecil
  • Dari situ saya mulai membranding toko online saya ditambah dengan tagline dan tambahan nama akhirnya saya dapat nama “BatikOE NOEsantara” dengan tagline “Radjanya Batik Noesantara”
  • Saya melakukan riset lagi untuk menembus pangsa pasar yang lain
  • Alhamdulillah berhasil tembus lagi, dari situlah mulai datang telp yang menanyakan tentang apakah BatikOE Noesantara membuka keagenan dan dengan  sangat menyesal saya mengatakan bahwa kami belum membuka keagenan. karena produk masih “nebeng” diorang lain.
  • Ada seorang teman yang menawarkan produk seharga 5 juta Rupiah, kebetulan beliau juga berjualan batik hanya saja melalui offline. Dia mau menitipkan produk seharga 5 juta tersebut ditoko onliene saya, akhirnya saya sepakati dan mulai saat itu saya memiliki stock sendiri
  • Saat ini BatikOE NOEsantara sedang dalam perbaikan Manajemen. Saya membuat lowongan kerja agar memiliki tambahan tenaga baru karena saat ini saya masih bekerja sendiri dan cukup kerepotan menangani pesanan.(Maklumlah masih single hehe…)
Prestasi BatikOE NOEsantara
Terpilih sebagai THE SELLER di eMarketplace Bursamuslim.com selama satu tahun (setahu saya hanya 10 orang yang dapat kesempatan berharga tersebut dari ribuan member bursamuslim.com)
Jika bukan anugrah dari Alloh SWT maka kami tak mungkin dipilih,mengingat masih minimnya pengalaman dan masih kecilnya usaha kami
Demikian mungkin ceritaku dari milist ini, semoga dapat menambah semangat kita dalam berusaha. Satu hal yang saya mungkin bisa sarankan kepada ikhwah semua, berbisnislah karena Alloh, jangan karena uang. Uang hanyalah efek dari yang kita lakukan, jika Alloh Ridha, Alloh akan memberikannya dari arah yang tak disangka-sangka dan yang punya Hafalan jangan lupa Mura’jaahnya yah hehe…..
Saya juga mengucapkan kepada semua pihak yang membantu saya baik doa dan usahanya, terimakasih semoga Alloh membalas dengan hal yang setimpal dan keberkahan, Amin…
Oy, BatikOE NOEsantara saat ini sedang membuka kerjasama untuk memenuhi stock batik kami. Bisa berbentuk uang atau produk batik. yang berminat silahkan JAPRI
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabrakatuh
Mungkin demikian ceritaku dari milist ini. Lalu, Mana ceritamu?

Nana A.Sutarna
batikoe

Radjanya Batik Noesantara

sumber

Berkat Online Shop, Pengangguran Ini Jadi Pengusaha Hijab Sukses


Jakarta - 'From Zero to Hero', mungkin kalimat itu bisa menggambarkan Suci Utami. Seorang blogger yang awalnya pengangguran, kini bisa mendapatkan penghasilan hingga puluhan juta rupiah dengan berbisnis online. Seperti apa kisahnya?



Setelah lulus dari kuliah pasca sarjananya di London School of Public Relation, wanitakelahiran 31 Januari 1987 itu tidak memilih untuk bekerja sebagai Public Relation atau Marketing Communication profesional sesuai jurusan yang diambilnya. Sebelum memulai bisnis online, ia justru memutuskan untuk menghabiskan waktunya sebagai blogger khusus hijab dengan judul 'lastminutegirl.blogspot'.

"Awalnya dulu sebagai blogger, terus saya pakai jilbab. Semejak pakai hijab, melihat banyak blogger hijab yang bagus-bagus jadi terisnpirasi untuk bikin blog khusus hijab. Posting-posting foto tiap hari. Dari situ, Alhamdulillah blognya diterima dengan baik sama pembaca, banyak yang komen, banyak yang follow, hit dari blognya juga lumayan cepat," ujar Suci Utami saat diwawancara Wolipop beberapa waktu lalu.

Setelah blognya mulai mendapatkan banyak pembaca setia, wanita yang berusia 25 tahun itu, melihat adanya peluang usaha. Banyak pembaca blog Suci yang bertanya mengenai hijab yang dikenakan Suci. Bisa dibilang, saat itu hijab berbahan kaus belum banyak ditemui.

"Sebenarnya nggak ngambil itu sebagai opportunity juga, tapi pada saat itu hijab bahan kaus belum terlalu in. Aku lihat peluangnya oke banget karena aku beberapa kali pakai di blog dan banyak yang nanyain aku beli dimana," tambah wanita yang memulai bisnis onlinenya pada awal 2011.

Menurut Suci memulai bisnis online tidaklah mudah. Ia perlu berkonsentrasi selama kurang lebih empat bulan untuk memulai bisnis onlinenya yang bernama Such by Suci Utami. Namun, wanita yang menikah pada 2011 itu, baru bisa membuat bisnis onlinenya benar-benar dikenal orang sejak sang suami, Budy Kurnia Djuanda campur tangan pada 2012. Bahkan Budy memutuskan untuk menseriusi bisnis istrinya dan menjadi 'penggerak'.

"Ide bisnis online ini datang dari kita berdua. Sampe sekarang semua decision hingga strategi pemasaran dia yang bikin karena S1 dan S2-nya bisnis. Jadi menurut aku, sudah sekolah susah-susah bisnis, ngapain jadi somebody's employee. Mendingan kita bisnis saja untuk menerapkan ilmu yang dia dapat, aku dapat. Semua ini dibuat pake ilmu. Alhamdulillah, lancar-lancar aja dengan kehadirannya suami," tambah Suci yang saat diwawancara tengah hamil.

Jika sebelumnya Suci mendapatkan barang dan bahan dari Tanah Abang, kini wanita yang baru saja melahirkan anak pertamanya itu, telah memiliki konveksi sendiri. Saat memulai bisnis online, Suci hanya mendapatkan omzet sekitar Rp 20 jutaan, sekarang ia berhasil mendapatkan omzet hingga Rp 70 jutaan dengan pelanggan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

"Sekarang sudah punya konveksi sendiri terus untuk barangnya sudah disuplai dari penyuplai bahan, jadi nggak ke Tanah Abang lagi. Waktu awal banget, omzetnya masih Rp 20 jutaan tiap bulan. Alhamdulillah sekarang sudah mencapai Rp 60-70 jutaan. Kita buka reseller dan pembelinya bukan dari Indonesia aja, produknya sudah kemana-mana, paling deket Malaysia, Singapore, Brunei. Untuk yang jauhnya, Prancis, Belgian, pernah juga ke Australia," ungkap Suci lagi.

Menurut Suci, usahanya kini telah sampai pada pencapaian terbesarnya. Walau begitu, Suci masih ingin terus melebarkan bisnisnya dengan mendirikan butik di Indonesia untuk brand pakaian muslimnya tersebut. Berkat bisnis onlinenya itu, Suci telah mendapat kesempatan untuk meluncurkan buku novel bersama tiga blogger hijab dan juga menjadi pembicara mengenai hijab.

"Dari blogger hingga punya brand sudah pencapain besar buat aku, brand aku bisa dikenal terus yang paling latest sekarang, aku bisa bikin novel bareng blogger lain, bikin dvd hijab tutorial sama salah satu blogger juga. Untuk dvd, kita nggak nyangka, kita bikin 1000 keping, dalam waktu dua minggu 750 sudah sold out. Jadi buat kita itu pencapainnya yang lumayan besar. Belum lagi kesempatan diundang kelas hijab, jadi pembicara tentang hijab," tutup Suci.

sumber

Meraup Untung Hingga Puluhan Juta Rupiah dengan Berbisnis Online Shop


Jakarta - Bisnis online shop kini semakin marak. Pekerjaan ini pun banyak dilakoni mereka yang baru saja lulus kuliah. Bisnis tersebut memang menggiurkan karena pemiliknya bisa meraup untung hingga puluhan juta rupiah.


Suci Utami, pemilik online shop Such by Suci Utami ini mengakui kalau bisnis online shop kini memang semakin menggiurkan. Dia sendiri sudah merasakannya. Wanita 25 tahun ini berbinis di dunia maya pada 2011. Dia awalnya hanya menjual hijab berbahan kaus di online shopnya.

Setelah setahun online shopnya semakin berkembang. Suci juga menjual busana muslim dan pembeli produknya bukan hanya dari Indonesia saja. "Sekarang produknya sudah ke mana-mana. Paling dekat Malaysia, Singapura, Brunei. Jauhnya Prancis, Belgia juga Australia," tuturwanita berhijab itu saat berbincang dengan wolipop belum lama ini.

Dengan bisnis busana muslim yang semakin maju, Suci pun merasakan dampak positif pada penjualan. "Omzetnya per bulan sekarang sekitar Rp 60-70 juta," ungkapnya. Jika dihitung, keuntungan yang didapat Suci biasanya setengah dari omzet yang didapatnya itu.

Hal serupa juga dirasakan Syela Kusumatmaja. Wanita yang memutuskan berbisnis online shop begitu lulus dari Teknik Kimia, Universitas Parahyangan, Bandung itu merupakan pendiri dari online shop Bag Lovers.

Syela mendirikan online shop tersebut sejak dua tahun lalu. Sesuai namanya, toko di dunia maya yang ia buat menjual berbagai tas beraneka model dan ukuran. Online shopnya semakin berkembang setelah ia menggunakan artis untuk berpromosi. Caranya dengan meng-endorse artis tersebut dengan berbagai barang dari tokonya. Semenjak memakai artis, keuntungan bisnisnya naik lima kali lipat.

"Keuntungan bersih satu bulan variatif. Kalau lagi ramai sampai Rp 10 juta. Kalau lagi sepi ya setengahnya," cerita wanita yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah itu saat diwawancara wolipop Sabtu (29/9/2012).

Bukan hanya bisnis online shop berbau fashion saja yang bisa membuat pemiliknya meraup untung jutaan rupiah. Menjual makanan secara online juga dapat menjadi alternatif untuk berbisnis. Seperti yang dilakukan Mega Isa, wanita lulusan Universitas Moestopo ini menjual abon cabai, Cunis, dan keripik cokelat, Ryco, melalui Twitter.

Baru tiga bulan Mega menjual abon cabai dan keripik cokelat secara online, namun keuntungan hingga jutaan rupiah sudah bisa dirasakannya. "Omzetnya sebulan Rp 5 juta," jelasnya kepada wolipop Jumat (28/9/2012).

Bagi Anda yang belum atau bingung mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, berbisnis online shop bisa menjadi pilihan. Bagaimana agar bisa sukses? Simak tipsnya di liputan khusus wolipop hari ini.

sumber